Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Order fiktif merugikan banyak pihak, sebaiknya aplikator memperketat layanan pesan antar makanan

Order fiktif sangat merugikan semua orang yang terkait dengan aplikasi ojek online. Driver ojol, pengguna aplikasi ojek online dan bahkan aplikator.

Baru-baru ini, bahkan sampai viral. Seorang ibu warga kota ciledug dengan nama Wilandini di serang orderan fiktif sampai 11 kali dengan total kerugian sampai 2,8 juta.

Order-fiktifOpik Merugikan banyak pihak, terutama layanan pesan antar makanan

Ibu Wilandini bahkan tidak mengetahui dari mana dan siapa yang melakukan orderan fiktif ini. Yang jelas, beliau didatangi 11 kali oleh driver ojek online yang mengantarkan pesanan ke alamat tersebut dengan nama pemesan Alohot. Padahal si ibu tidak pernah merasa melakukan pemesanan dan tidak mengenal nama tersebut.

Dengan kebesaran hati ibu Wilandini, beliau membayar pesanan yang datang. Ibu ini akhirnya menyampaikan keluhan atas apa yang dia alami ke pihak aplikator. Tapi sayang respons terlalu lama dan akhirnya kejadian ini menjadi viral di media sosial. Dan pihak Grab memberikan tanggapan dan mengganti klaim yang diajukan ibu Wilandini.

Belajar dari kejadian di atas, order fiktif bisa menimpa dan merugikan siapa saja. Baik itu driver, customer, aplikator dan bahkan bukan pengguna ojek online. Semua bisa saja terjadi.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah aplikator sudah melakukan langkah pencegahan agar hal ini tidak terulang kembali ? Misalnya dengan memperjelas setiap akun yang ingin mendaftar ke dalam aplikasi dengan harus memasukkan nomor identitas seperti KTP untuk memperjelas setiap identitas pengguna. Atau bisa di gabungkan dengan verifikasi wajah dan identitas diri.

Jika aplikator tidak segera mengambil tindakan, besar kemungkinan kejadian seperti ini akan terulang kembali. Intinya, identitas akun pengguna ojek online harus diperjelas untuk memperkecil kemungkinan ini terjadi. Dan pengguna pun tidak akan sembarangan meminjamkan akun jika identitas mereka terlampir ke dalam aplikasi.

Langkah verifikasi identitas merupakan hal yang paling tepat untuk mencegah terjadinya order fiktif dan keamanan semua pihak. Jadi pemilik identitas harus benar-benar menjaga akun ojek online yang mereka miliki.

Selain verifikasi identitas, mungkin pihak aplikator harus membuat aturan order untuk pelanggan baru. Misalnya harus melakukan orderan layanan antar jembut terlebih dahulu dengan jumlah tertentu baru bisa melakukan order gofood. Alamat pengorderan layanan antar jemput nantinya akan dijadikan sebagai acuan jika suatu saat akun tersebut tersandung kasus order fiktif. Misalnya pengguna baru harus melakukan orderan layanan antar jemput penumpang lebih dari 10 kali baru bisa memesan layanan makanan. Persyaratan seperti ini mungkin bisa mengurangi resiko orderan fiktif.

Layanan primadona order fiktif lebih banyak terjadi pada layanan pembelian makanan atau belanja. Layanan ini bisa merugikan korban order fiktif dengan nominal yang lumayan besar. Harusnya layanan pesan antar makanan dan belanja harus diperketat lagi aturan pemakaiannya untuk mencegah orderan yang merugikan banyak pihak.

Semoga kedepannya, pihak aplikator ojek online bisa lebih meningkatkan layanan ini untuk keamanan semua pengguna jasa ojek online.

Fad
Fad Blogger "Jeme Kite". Menyukai blog dari 2018 dan belum bisa Fokus. Hanya membahas topik ringan dan seputar pekerjaan. Belum tergabung dengan komunitas blogger dengan baik. Semoga kedepannya menemukan teman baru.