Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Covid-19 Meracuni pikiranku | OPINI

COVID-19 saat ini hampir merebak di seluruh dunia. Termasuk negara tercinta kita Indonesia. Dengan kondisi seperti ini, kita di sarankan untuk beraktivitas dari rumah. Dengan penerapan Work From Home ini di harapankan mampu memutus rantai penyebaran COVID-19.

Banyak langkah yang di lakukan pemerintah dan masyarakat saat ini. Dari pemakaian masker saat keluar rumah, menjaga jarak dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Saya tidak akan membahas poin-poin di atas, ada hal yang sedikit mengganjal pemikiran saya. Masyarakat banyak yang memasang portal dan menutup akses ke dalam perumahan. Dengan kondisi seperti ini, tujuannya untuk membatasi lalu lintas yang berada di seputaran perumahan.

Pasang Portal di perumahan

Memang benar ini dapat mencegah penularan COVID-19 asalkan penghuninya juga membatasi diri. Yang banyak terjadi adalah, portal di tutup tapi penghuninya malah berkumpul, ngobrol bareng dan bahkan ngerumpi.
Apa ini akan efektif ?

Disini saya Cuma menyampaikan pandangan dan pendapat saya, mohon di maafkan jika seandainya banyak pihak yang tidak sependapat dengan hal ini.

Seharusnya portal tidak di tutup dengan penghuninya sadar diri dan tidak melakukan kegiatan di luar rumah, maka hal ini sudah bisa mencegah penularan COVID-19.

Yang di butuhkan saat ini adalah kesadaran diri masing-masing. Dengan menahan diri agar tidak melakukan aktivitas dan menjaga jarak dengan orang lain. Jika ini di lakukan semua orang, keberhasilan mencegah penyebaran COVID-19 akan berhasil. Tapi tau sendirilah, kondisi ekonomi kita saat ini sangat sulit untuk dapat menerapkan hal ini. Masih banyak masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah demi sesuap nasi dan menafkahi keluarga.

Dengan penutupan portal perumahan dan terbatasnya akses untuk masuk kedalam perumahan tersebut, apa yang akan terjadi ?
Banyak pengguna yang mengeluh dengan hal ini.

Misalnya ojek online, pengantar paket, tukang antar galon dan delevery lainnya.
Saya sebagai ojek online aja mengeluh jika mengantarkan makanan ke area seperti ini, saya harus berjalan kaki jika pemesan tidak mau ambil pesanan di pos. Berlaku hal yang sama untuk pengantar galon, bawaan mereka lebih berat dan besar.

“Ojol sih masih mending, bawaan tidak terlalu besar dan berat klo Cuma makanan”
“Bayangin klo abang galon”

Dan yang buah simalakama adalah pengantar paket. Mereka akan merasa tidak nyaman saat meninggalkan barang mereka di kendaraan saat mencari alamat pelanggan. Seandainya barang mereka di curi, siapa yang bertanggung jawab ?

Karena tidak semua perumahan yang memasang portal menyediakan penjaga di depannya untuk menitipkan kendaraan dan barang bawaan. Ada perumahan yang Cuma pasang portal tetapi tidak ada penjaganya. Ini kan konyol. Jika masih ada penjaganya masih maklumlah.

Jika terpaksa menutup akses perumahan, sebaiknya di berikan solusi. Jangan Cuma pasang portal. Misalnya di sediakan penjaga atau petugas yang membantu mengantarkan pesanan atau barang ke penerima. Ini akan sangat membantu. Misalnya pengantar paket sampai di pos kemudian di lanjutkan oleh petugas tersebut ke penerimanya. Ini akan lebih baik.

Semoga ke depannya akan lebih baik, bukan Cuma tutup portal saja, tapi kesadaran diri masyarakat untuk bahu membahu mencegah penyebaran virus ini dengan tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Ini bisa saja terjadi asalkan ada kesadaran diri dan bantuan pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat saat tidak keluar rumah.

Masyarakat Mulai timbul kecemburuan sosial

Sudah banyak beredar di media sosial dan bahkan sudah ada arah yang protes. Masyarakat ada yang merasa driver ojek online terlalu di istimewakan. Bantuan seakan terasa mengistimewakan terhadap golongan tersebut.



Mengapa bisa begini ?

Dengan banyaknya jumlah ojek online dan komunitas yang mereka miliki di media sosial. Kejadian apapun akan cepat viral jika menyangkut ojek online. Misalnya ada seseorang atau lembaga yang memberikan sumbangan, akan sangat cepat tersebar beritanya melalu sosial media karena sebagian besar ojol adalah pengguna medsos.

Dengan tingginya penggunaan media sosial ini, berita yang menyangkut ojol akan sering terekspose. Berbeda dengan masyarakat lainnya. Misalnya ada yang memberikan bantuan untuk pedagang kecil, mungkin hanya beberapa orang yang upload di media sosial. Dan tidak banyak di ketahui orang.

Dengan seringnya bantuan di share pada media sosial oleh driver online ini, seolah-olah hanya driver online yang di berikan bantuan. Seolah-olah semua orang hanya peduli dengan mereka. Padahal sebenarnya banyak masyarakat lain yang menerima bantuan dan tidak seviral ojol.

Salah satu contoh, masyarakat yang menerima bantuan token listrik. Apakah hal ini menjadi viral dan ramai-ramai upload di media sosial saat menerima token ? Saya lihat adem-adem aja.

Bahkan ada masyarakat yang menerima bantuan tunai dan langsung viral ? Tidak juga. Coba jika ojol yang terima bantuan tunai, sudah pasti kabarnya akan langsung sampai ke pelosok negeri.

Salah satu contoh, diskon pembelian bahan bakar yang sampai 50% oleh oertamina dengan maksimal cashback 15 ribu. Langsung vir dimana-mana dan cenderung mengistimewakan ojek online. Padahal belum tentu semua ojol menikmati fasilitas ini. Apakah semua ojol akan ramai-ramai menggunakan link untuk menikmati diskon ini ? Saya rasa tidak juga. Karena banyak juga ojol yang tidak paham dengan penggunaanya.

“Ah... Saat ini ojol di anak emaskan, apa-apa selalu ojol yang di dahulukan, bantuan aja selalu mereka yang dapat”
“ojol terlalu lebay, merasa mereka yang paling susah”

Miris... Bahkan sangat miris saya melihat keluhan seperti ini. Buka mata, buka telinga sebelum memberikan opini. Jangan memojokkan mereka.

Mari kita pikirkan dengan seksama. Apa yang terjadi saat ini menimpa semua golongan. Semua mengeluh. Semua terkena dampak.

Tapi kenapa ojol yang selalu muncul di permukaan ?
Karena jumlah mereka banyak. Karena komunitas mereka di media sosial banyak.

Pedagang yang mengeluh di media sosial juga ada, tapi sayang mereka tidak di viralkan. Karyawan yang menguluh di media sosial juga banyak, tapi keluhan mereka tertutup oleh ramainya keluhan ojol.
Pengemis dan pemulung yang kehilangan pendapatan juga banyak. Namun tidak viral, karena kurangnya jumlah yang mau share akan keadaan mereka.

Kalian mau membantu ?
Kalian merasa tersisih ?
Kalian merasa di anak tirikan ?
Kalian merasa tidak di bantu ?

Saya rasa itu salah. Saat ini pemerintah mencoba membantu kalian. Orang yang mampu banyak yang berbagi untuk yang membutuhkan. Banyak yang demawan berbagi untuk semua golongan. Tapi sayang, sebagaian besar yang share Cuma ojol yang muncuk di permukaan. Mungkin kalian akan merasa malu share ke media sosial saat menerima nasi bungkus, mungkin kalian akan gengsi membagikan bantuan yang kalian terima. Bahkan ada yang mencemooh Cuma karena menerima bantuan beras 5 kg. Dan ini sangat lucu. Bersyukur masih ada yang membantu walau hanya sebatas selembar masker.

Coba klo ojol yang terima nasi bungkus, mereka banyak yang share. Mereka merasa terbantu dengan pemberian tersebut. Coba kamu yang ikut di antrian para ojol menunggu giliran dapat sebungkus nasi, apa kalian share ke media sosial. Saya yakin kalian merasa malu dan hanya diam menikmati nasi tersebut dalam kontrakan.

Misalnya kalian dapat bantuan dari perusahaan masing-masing, apa kalian share ke media sosial ? Dan jika ojol yang terima bantuan dari aplikator, sudah pasti ada yang share dan langsung menyebar kabar beritanya.

Saya rasa, tidak ada pihak atau golongan yang di istimewakan, namun yang saat ini yang selalu di soroti dan muncul di permukaan memang para driver ojek online.

Di akhir artikel yang sederhana ini, marilah kita bersatu. Tidak usah membesarkan kecemburuan sosial. Jika merasakan ada golongan tertentu yang merasa perlu di bantu, mari kita bersatu menyuarakan golongan tersebut dengan tidak memojokkan golongan lain. Mari kita bersama-sama saling mendoakan, saling mengingatkan dan saling membantu. Kita memiliki kisah yang berbeda namun dalam kondisi yang sama. Kita semua terdampak dalam kondisi ini. Semoga ALLAH segera mengangkat penderitaan ini, semoga bangsa indonesia dan seluruh dunia segera mengatasi keadaan ini.

Jangan biarkan perasaan iri dan dengki menimbulkan perpecahan. Dalam keadaan serba sulit ini, marilah kita membuka mata dan hati untuk saling membantu. Hilangkan ego, tetap bersabar dan selalu berusaha mencari jalan terbaik untuk keluar dari keadaan ini.

Terima kasih sudah membaca kegalauan ini, terima kasih telah bersedia membaca blog ini.



Fad
Fad Blogger "Jeme Kite". Menyukai blog dari 2018 dan belum bisa Fokus. Hanya membahas topik ringan dan seputar pekerjaan. Belum tergabung dengan komunitas blogger dengan baik. Semoga kedepannya menemukan teman baru.